armedia.news | Krisis memori global yang berlangsung sejak tahun lalu kini memasuki fase yang lebih serius. Harga RAM dan komponen memori lainnya melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, dan para analis memperingatkan bahwa dampaknya akan semakin luas hingga mengancam keberlangsungan banyak perusahaan elektronik.
Pua Khein Seng, CEO Phison—perusahaan spesialis memori—mengungkapkan dalam wawancara dengan media Taiwan bahwa krisis ini diprediksi terus berlanjut hingga 2027. Menurutnya, perusahaan elektronik yang tidak mampu mengamankan pasokan RAM berisiko menghentikan produksi atau bahkan gulung tikar.
Produksi Ponsel, PC, dan TV Diprediksi Anjlok
Dalam pernyataannya yang dikutip dari PCGamer, Khein Seng menyebut bahwa industri elektronik konsumer akan mengalami banyak kegagalan dalam dua tahun ke depan. Ia memperkirakan:
– Produksi ponsel akan turun hingga 200–250 juta unit.
– Produksi PC dan TV juga akan merosot signifikan.
– Banyak vendor sistem diprediksi bangkrut atau menghentikan lini produk karena tidak mampu mendapatkan memori.
Kondisi ini terjadi karena permintaan memori melonjak drastis, terutama dari pusat data AI yang menyerap sebagian besar pasokan global.
Konsumen Diprediksi Lebih Sering Memperbaiki Barang Elektronik
Khein Seng juga memperkirakan perubahan perilaku konsumen. Dengan harga komponen yang terus naik, masyarakat diprediksi akan lebih memilih memperbaiki perangkat elektronik yang rusak daripada membeli baru.
Selain itu, sejumlah produsen memori kini meminta pembayaran di muka untuk kontrak tiga tahun—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri elektronik. Langkah ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan mendapatkan pasokan memori.
Kelangkaan Bisa Berlangsung Hingga 2030
Lebih jauh, Khein Seng mengungkapkan bahwa produsen memori secara internal memperkirakan krisis ini bisa berlangsung hingga 2030, bahkan mungkin mencapai satu dekade penuh. Hal ini dipicu oleh ekspansi besar-besaran pusat data AI yang membutuhkan memori berkapasitas tinggi dan berkecepatan tinggi.
Harga RAM dilaporkan naik hingga enam kali lipat dalam beberapa bulan terakhir, membuat biaya produksi perangkat elektronik ikut meroket.
Tiga Raksasa DRAM Kuasai Pasar Dunia
Saat ini, hanya tiga perusahaan besar yang menguasai 93% pasar DRAM global:
– Samsung
– SK Hynix
– Micron
Ketiganya lebih mengutamakan pesanan memori canggih untuk pusat data AI karena margin keuntungannya jauh lebih tinggi dibanding memori untuk produk konsumer seperti smartphone, laptop, atau TV.
Meski ketiga perusahaan tersebut sedang membangun fasilitas produksi baru, mereka tetap berhati-hati agar tidak terjadi kelebihan produksi yang bisa merugikan mereka di masa depan.
Dampak Lain: Peluncuran Produk Baru Tertunda
Krisis memori ini juga berdampak pada jadwal peluncuran berbagai perangkat elektronik. Salah satu yang paling terdampak adalah konsol game generasi berikutnya, di mana peluncuran beberapa produk—termasuk PS6—dilaporkan tertunda karena keterbatasan pasokan RAM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



