armedia.news | Jakarta, 26 Agustus 2025 — Salju abadi di Puncak Cartenz, Papua, yang selama ini menjadi simbol keunikan geografis Indonesia, diperkirakan akan lenyap sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua tahun. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, menyampaikan peringatan ini dalam konferensi pers terbaru yang menyoroti dampak nyata perubahan iklim terhadap lanskap alam Indonesia.
“Jika tren pencairan es terus berlanjut seperti sekarang, maka pada tahun 2026 kita tidak lagi melihat salju di Cartenz,” ujar Siti Nurbaya. Pernyataan tersebut didasarkan pada data pemantauan iklim dan citra satelit yang menunjukkan penurunan drastis luas tutupan es di kawasan pegunungan Jayawijaya.
Puncak Cartenz: Salju Tropis yang Terancam Punah

Puncak Cartenz, yang berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, merupakan satu-satunya titik bersalju di wilayah tropis Indonesia. Salju di puncak ini telah bertahan selama ribuan tahun, namun kini menghadapi ancaman serius akibat pemanasan global. Para peneliti mencatat bahwa sejak awal 2000-an, lapisan es terus menyusut dengan kecepatan yang meningkat setiap tahun.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata di wilayah pegunungan Papua mengalami kenaikan signifikan, disertai perubahan pola angin dan kelembapan yang mempercepat proses pencairan. Aktivitas manusia, deforestasi, dan emisi gas rumah kaca turut memperburuk kondisi tersebut.
Dampak Ekologis dan Sosial yang Mengintai
Kehilangan salju abadi bukan sekadar perubahan lanskap visual. Dampaknya jauh lebih kompleks dan menyentuh berbagai aspek kehidupan. Ekosistem pegunungan yang bergantung pada keberadaan es akan terganggu, termasuk aliran sungai yang bersumber dari pencairan salju. Komunitas lokal yang hidup di sekitar kawasan juga berpotensi terdampak, baik dari sisi budaya maupun ekonomi.
“Ini bukan hanya soal estetika alam. Kita sedang menyaksikan indikator krisis iklim yang sangat nyata,” tegas Menteri LHK. Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah menyusun strategi adaptasi dan mitigasi, termasuk memperkuat regulasi lingkungan dan memperluas edukasi publik tentang pentingnya menjaga keseimbangan iklim.
Perubahan Iklim: Tantangan Global, Tanggung Jawab Bersama
Prediksi hilangnya salju Cartenz menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan isu jauh di luar negeri, melainkan kenyataan yang kini menyentuh jantung alam Indonesia. Para pakar menyerukan perlunya kolaborasi lintas sektor—pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil—untuk menekan laju kerusakan lingkungan.
Langkah-langkah seperti transisi energi bersih, pengurangan emisi karbon, dan pelestarian hutan tropis menjadi kunci dalam menjaga stabilitas iklim. Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi dan posisi strategis di garis khatulistiwa, memiliki peran penting dalam upaya global ini.
Kesimpulan: Waktu Kita Semakin Sempit
Salju abadi Cartenz bukan hanya warisan alam, tetapi juga barometer perubahan iklim yang tak bisa diabaikan. Prediksi tahun 2026 sebagai titik akhir keberadaan es di puncak tertinggi Indonesia harus menjadi momentum refleksi dan aksi nyata. Tanpa intervensi serius, kita bukan hanya kehilangan salju—kita kehilangan kendali atas masa depan lingkungan kita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



