Home / Pendidikan / 200 Lebih Cabang, Ini Pesan Penting Paguyuban Pasundan Istri! Regenerasi Anak Muda Jadi Ku

200 Lebih Cabang, Ini Pesan Penting Paguyuban Pasundan Istri! Regenerasi Anak Muda Jadi Ku


Paguyuban Pasundan Istri Buka Pintu bagi Generasi Muda, Pelestarian Budaya Sunda Didorong Makin Luas


BANDUNG – Regenerasi menjadi salah satu kunci penting agar kesenian Sunda tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Pesan tersebut mengemuka dalam pagelaran Lestari Tradisi: Bandung 1990 di Bumi Sangkuriang, Kota Bandung, Sabtu (17/10/2026), ketika perwakilan Paguyuban Pasundan Istri, Gita, menyoroti pentingnya keterlibatan lintas generasi dalam menjaga keberlangsungan budaya.


Menurut Gita, kelompok kesenian perlu terus mengembangkan kualitas karya, memperluas ruang kreativitas, dan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan kebudayaan.


Ia menilai, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukan yang sudah ada. Seni juga perlu terus dieksplorasi agar memiliki pesan yang kuat, relevan dengan kehidupan masyarakat, serta mampu menjawab tantangan zaman.


Pandangan tersebut sejalan dengan semangat Lestari Tradisi: Bandung 1990 yang mengangkat kembali kekayaan Pop Sunda era 1990-an melalui pertunjukan musik, tari, dan berbagai kesenian tradisional.


Paguyuban Pasundan Istri Punya Lebih dari 200 Cabang


Dalam wawancara di sela kegiatan, Gita menyampaikan bahwa Paguyuban Pasundan Istri memiliki lebih dari 200 cabang di berbagai wilayah Jawa Barat dan Indonesia.


Jaringan tersebut menjadi potensi besar untuk memperluas kegiatan pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, serta penguatan nilai-nilai tradisi di tengah masyarakat.


Menurutnya, keterlibatan generasi muda perlu terus didorong agar organisasi dan kelompok kesenian memiliki keberlanjutan.


Ia menegaskan pentingnya membuka diri terhadap siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan, termasuk mereka yang ingin mengeksplorasi kembali potensi seni dan tradisi Sunda.


“Di sini pentingnya lintas generasi. Paguyuban Pasundan Istri membuka diri bagi siapa pun yang peduli untuk mengeksplorasi kembali potensi yang dimiliki,” demikian inti pernyataan Gita dalam wawancara tersebut.


Pesan itu menjadi sinyal bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang kolaborasi yang inklusif, sehingga pengalaman generasi terdahulu dapat berjalan beriringan dengan gagasan dan kreativitas generasi muda.


Bukan Sekadar Melestarikan Tari dan Lagu

Baca juga :  Pemkot Bandung Gelontorkan Rp15 Miliar untuk Kadedeuh Atlet Berprestasi di Grand Pasundan

Gita juga menekankan bahwa karya seni yang ditampilkan dalam berbagai kegiatan kebudayaan sebaiknya tidak hanya menarik secara visual atau menghibur penonton.


Lebih dari itu, seni perlu memiliki isi dan pesan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Harapan tersebut sejalan dengan pandangan Bunda Rita Laraswati yang menginginkan agar pagelaran budaya tidak hanya menampilkan tarian dan lagu tradisional, tetapi juga menyampaikan nilai keluhuran budi serta etika yang diwariskan para leluhur.


Kedua pandangan itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya memiliki dimensi yang luas. Selain menjaga keberadaan kesenian, upaya tersebut juga perlu memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Melalui pendekatan ini, kesenian dapat menjadi sarana pendidikan karakter sekaligus ruang dialog antara generasi tua dan generasi muda.


Lestari Tradisi Bandung 1990 Satukan Seniman Lintas Generasi


Lestari Tradisi: Bandung 1990 menghadirkan beragam pertunjukan yang menghidupkan kembali suasana musik Sunda era 1990-an.


Sejumlah seniman yang tercantum dalam agenda acara antara lain Doel Sumbang, Nining Meida, Dewi Gita, Dira Sugandi, Candil, Yuki Pas Band, Ujang Darso, dan Rehan Darso.


Pertunjukan seni tradisional juga melibatkan Sanggar Tari Indrawati Lukman, Saung Angklung Udjo, serta sejumlah kelompok kesenian lainnya.


Kegiatan tersebut dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Titimangsa, lembaga seni yang didirikan oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara, dengan Pradetya Novitri sebagai rekan pendiri.


Sebelumnya, program Lestari Tradisi: Sukabumi 1980 diselenggarakan pada 2023. Melalui edisi Bandung 1990, upaya pelestarian budaya Sunda dilanjutkan dengan mengangkat perkembangan musik populer dan kesenian tradisional sebagai bagian dari perjalanan budaya masyarakat.


Selain pertunjukan, kegiatan ini juga menghadirkan unjuk bakat, lomba kesenian, serta bazar kuliner dan kerajinan khas Bandung.


Keterlibatan berbagai seniman dan kelompok budaya menjadi kesempatan untuk memperluas apresiasi masyarakat sekaligus mendorong keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan.


Pemberdayaan Perempuan dan Budaya Harus Berjalan Bersama

Baca juga :  Bank Nagari Bandung Rangkul GEBU Minang Jabar, Spirit Rantau dan Kampuang Menggema dari Tanah Pasundan


Sebagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap perempuan, Paguyuban Pasundan Istri juga menilai pentingnya ruang kolaborasi untuk membahas berbagai persoalan perempuan melalui pendekatan lintas generasi.


Kegiatan kebudayaan dapat menjadi salah satu sarana memperkuat keterlibatan perempuan dalam kehidupan sosial, menjaga identitas lokal, dan membuka kesempatan bagi lebih banyak anggota masyarakat untuk berpartisipasi.


Dengan jaringan cabang yang tersebar di berbagai wilayah, organisasi tersebut memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan yang menghubungkan seni, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.


Namun, keberhasilan regenerasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggota atau luasnya jaringan organisasi. Diperlukan pula program yang berkelanjutan, ruang belajar bagi generasi muda, serta dukungan terhadap kelompok kesenian agar mampu menghasilkan karya yang berkualitas.


Karena itu, kolaborasi antara organisasi budaya, seniman, lembaga kebudayaan, dan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya menjaga tradisi agar tetap relevan.


Penutup: Jangan Biarkan Budaya Sunda Berhenti pada Generasi Hari Ini


Pesan Paguyuban Pasundan Istri melalui Gita menegaskan bahwa masa depan budaya Sunda bergantung pada kesediaan masyarakat untuk membuka ruang regenerasi.


Generasi muda perlu diberi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan kesenian tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.


Lestari Tradisi: Bandung 1990 menjadi salah satu ruang pertemuan yang memperlihatkan bagaimana nostalgia, kreativitas, dan komitmen pelestarian budaya dapat berjalan bersama.


Lebih dari sekadar menjaga tradisi, tantangan sesungguhnya adalah memastikan budaya Sunda tetap hidup dalam karya, pemikiran, dan tindakan generasi penerus.


Sebab, warisan budaya yang tidak diteruskan akan perlahan menjauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, tradisi yang dirawat bersama akan terus tumbuh, menemukan bentuk baru, dan menjadi kebanggaan lintas generasi.

Redaksi: Mia Marliani

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tag:

Tinggalkan Balasan

Berita Terpopuler

error: Content is protected !!