Home / Berita Utama / DLH Muna Barat dan Ironi Efisiensi yang Mengotori

DLH Muna Barat dan Ironi Efisiensi yang Mengotori

armedia.news | Di tengah gencarnya jargon “efisiensi” yang digaungkan pemerintah daerah, masyarakat Muna Barat justru dihadapkan pada kenyataan pahit: tumpukan sampah yang kian mengkhawatirkan, khususnya di Pasar Lawa. Alih-alih memberikan pelayanan yang lebih baik, alasan efisiensi justru dijadikan tameng oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membiarkan persoalan sampah berlarut-larut.

Pasar Lawa, sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat, kini tercemar oleh sampah yang berserakan. Kondisi ini menimbulkan keresahan warga, baik pedagang maupun pembeli. Lingkungan yang bau dan kumuh jelas mengurangi kenyamanan sekaligus mengancam kesehatan. Namun, DLH justru berdalih keterbatasan pengelolaan sampah akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Padahal, efisiensi seharusnya berarti penggunaan anggaran secara bijak tanpa menurunkan kualitas layanan publik. Jika efisiensi dimaknai sekadar pengurangan armada, keterlambatan pengangkutan, atau pengabaian tanggung jawab, maka yang terjadi bukanlah efisiensi, melainkan pembiaran. Sampah bukan hanya masalah estetika, tetapi ancaman serius bagi kesehatan dan keberlangsungan ekonomi rakyat kecil.

Baca juga :  Sambut HUT Ke 74 Polairud, Dit Polairud Polda NTB Gelar Kegiatan Sosial Donor Darah

DLH Muna Barat seolah melupakan tugas pokoknya: menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan layak. Membiarkan pasar—sebagai jantung ekonomi lokal—dalam kondisi tercemar justru bisa menimbulkan efek domino: berkurangnya minat pembeli, meningkatnya risiko penyakit, hingga menurunnya citra daerah.

Karena itu, masyarakat wajar mempertanyakan: efisiensi ini untuk siapa? Jika ujung-ujungnya justru merugikan warga, maka dalih efisiensi hanyalah bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab pelayanan publik. Pemerintah daerah seharusnya mencari solusi inovatif dalam pengelolaan sampah, bukan sekadar bersembunyi di balik alasan anggaran.

Sudah saatnya DLH meninjau ulang strategi pengelolaan sampah, khususnya di Pasar Lawa. Penanganan yang tepat tidak hanya menyelamatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjaga keberlangsungan roda ekonomi lokal. Efisiensi sejati adalah ketika anggaran digunakan secara efektif tanpa mengorbankan kualitas pelayanan.

Baca juga :  Perpanjang Sertifikat Laik Hygienes, Lapas Lumajang Terima Kunjungan Dinas Kesehatan.

Sebagai mahasiswa, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan keresahan ini. Lingkungan masyarakat harus menjadi tempat yang bersih, nyaman, dan layak—bukan kubangan sampah akibat kelalaian pemerintah. Yang dibutuhkan bukan alasan, melainkan solusi nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tag:

Tinggalkan Balasan

Berita Terpopuler