armedia.news | Setiap Ramadan, masyarakat sering mendengar ungkapan “Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah”. Ungkapan ini berasal dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi:
“Naumu al-shoimi ‘ibadah, wa shomtu tasbih, wa ‘amaluhu mudha’af, wa du’a’uhu mustajab, wa dzanbuhu maghfur”
(“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni”).
Penjelasan Para Ulama
- Makna hadis bukan berarti tidur sepanjang hari saat puasa lalu meninggalkan kewajiban lain.
- Tidur disebut ibadah karena orang yang berpuasa menahan diri dari perbuatan maksiat bahkan dalam keadaan tidur.
- Selama puasa, setiap aktivitas yang tidak melanggar syariat—termasuk tidur—dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjaga kekuatan agar bisa beribadah lebih optimal.
Kritik dan Klarifikasi
- Hadis ini tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan sepanjang Ramadan.
- Ulama menekankan bahwa Ramadan seharusnya diisi dengan ibadah aktif: membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, sedekah, dan amal sosial.
- Tidur memang bisa bernilai ibadah, tetapi tidak lebih utama dibandingkan ibadah yang dilakukan secara sadar.
Kesimpulan
- Benar, ada hadis yang menyebutkan bahwa tidur orang berpuasa dihitung sebagai ibadah.
- Namun, maknanya adalah tidur yang berniat menjaga kekuatan untuk ibadah, bukan tidur berlebihan atau bermalas-malasan.
- Ramadan tetap harus diisi dengan amal ibadah aktif, sementara tidur hanya menjadi bagian kecil dari rangkaian ibadah puasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



