Home / Peristiwa / Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan Ilmiahnya

armedia.news | Fenomena lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, sempat menghebohkan publik karena ukurannya yang sangat besar. Namun hasil analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa lubang tersebut bukan sinkhole, melainkan longsoran akibat kondisi geologi setempat.

Bukan Batu Gamping, Tapi Lapisan Tufa yang Rapuh

BRIN menjelaskan bahwa wilayah tersebut tidak tersusun dari batu gamping (limestone) yang biasanya menjadi pemicu sinkhole. 
Material penyusunnya adalah tufa, yaitu endapan hasil aktivitas Gunung Geurendong yang kini sudah tidak aktif.

Ciri tufa:

– Lapisan muda 
– Belum terpadatkan 
– Kekuatan rendah 
– Mudah tergerus air 
– Rentan runtuh 

Karena sifatnya yang rapuh, tufa sangat mudah mengalami erosi dan longsor, terutama jika jenuh air.

Fenomena Longsoran Bertahap, Bukan Lubang Mendadak

Analisis citra satelit Google Earth sejak 2010 menunjukkan bahwa area tersebut sudah memiliki lembah kecil yang terus melebar dari tahun ke tahun. 
Proses erosi dan longsoran berlangsung puluhan hingga ratusan tahun, hingga akhirnya membentuk lubang besar seperti yang terlihat sekarang.

Baca juga :  Mahasiswi UGM Hilang Saat Mudik, Ditemukan Meninggal di Magetan

Faktor Pemicu: Gempa 2013, Hujan Lebat, dan Irigasi

Beberapa faktor mempercepat keruntuhan lapisan tufa:

1. Gempa 6,2 SR pada 2013

Gempa besar yang mengguncang Aceh Tengah diduga melemahkan struktur lereng, membuatnya semakin tidak stabil.

2. Hujan Lebat

Tufa sangat mudah jenuh air. Ketika air meresap:

– Lapisan tanah kehilangan daya ikat 
– Struktur menjadi labil 
– Longsor terjadi lebih cepat 

3. Saluran Irigasi Terbuka

Air dari irigasi yang meresap ke dalam tanah mempercepat pelapukan dan penggerusan lapisan tufa.

BRIN juga mengungkapkan kemungkinan adanya aliran air tanah yang mengikis batas antara tufa rapuh dan batuan lebih padat di bawahnya, menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga.

Baca juga :  Begini Kondisi Bus TransJakarta yang Adu Banteng

Fenomena Serupa Ada di Wilayah Lain

BRIN menyebut kondisi seperti ini juga ditemukan di daerah dengan karakter geologi serupa, misalnya:

Ngarai Sianok, Sumatera Barat 
yang terbentuk dari proses tektonik dan erosi panjang pada batuan vulkanik muda.

Butuh Penelitian Lapangan untuk Kepastian Detail

BRIN menegaskan bahwa analisis saat ini masih berdasarkan:

– Citra satelit 
– Data publik 
– Kajian geologi regional 

Untuk memastikan penyebab secara detail, diperlukan penelitian lapangan komprehensif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tag:

Tinggalkan Balasan

Berita Terpopuler