armedia.news | Jakarta — Sejumlah mahasiswa kembali menggelar Aksi Jilid II di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (26/8/2025). Mereka menuntut KPK segera memeriksa serta menindak Kepala Dinas DPRKPP Sulawesi Tenggara, La Ode Muhammad Nurjaya, bersama kontraktor CV Mahadewi terkait proyek Dermaga Bangko di Kabupaten Muna Barat.
Koordinator aksi, Ismail Marcos, menyebut keruntuhan dermaga bernilai miliaran rupiah itu bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi kuat adanya praktik korupsi.
“Dermaga ini baru diresmikan akhir Desember 2024, namun sudah ambruk pada Juli 2025. Tiang pancang patah, beton retak, materialnya diduga tidak sesuai standar. Padahal pembangunan ini menghabiskan anggaran miliaran rupiah,” tegas Ismail.
Ia juga menyoroti dugaan adanya kolusi antara kontraktor CV Mahadewi dan La Ode Muhammad Nurjaya sejak proses tender hingga pelaksanaan proyek.
“Kami mendesak KPK agar tidak berlarut-larut. Jika tuntutan ini diabaikan, KPK justru memberi ruang bagi koruptor untuk bebas berkeliaran,” tambahnya.
Ismail menegaskan aksi kali ini adalah peringatan keras. Jika tetap diabaikan, mereka berjanji akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar untuk mendesak penindakan hukum terhadap La Ode Muhammad Nurjaya dan pihak kontraktor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



