BANDUNG – Euforia juara kembali mengguncang Kota Bandung. Setelah memastikan gelar Liga Indonesia 2025/2026 usai bermain imbang 0-0 melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (23/5/2026), Persib Bandung resmi mencatat sejarah sebagai klub pertama di era Liga Indonesia yang meraih gelar juara tiga musim beruntun atau hat-trick juara.
Di tengah gegap gempita ribuan bobotoh, muncul kembali satu nama yang dianggap menjadi fondasi kebangkitan Maung Bandung: Dada Rosada. Sosok yang kini kembali dikenang sebagai “Bapak Persib” karena jasanya menyelamatkan klub dari ancaman kehancuran dan mengubahnya menjadi klub profesional modern.
Peran besar Dada Rosada bermula saat ia menjabat Wali Kota Bandung periode 2003–2013 sekaligus dipercaya menjadi Ketua Umum Persib periode 2003–2008. Pada masa itu, klub-klub Perserikatan, termasuk Persib, masih bergantung pada dana APBD untuk operasional tim.
Namun situasi berubah drastis setelah terbitnya Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 yang melarang penggunaan APBD untuk pembiayaan klub profesional. Kebijakan tersebut membuat banyak klub Indonesia goyah, termasuk Persib yang terancam gagal mengikuti kompetisi nasional akibat persoalan pendanaan.
Di tengah krisis itulah Dada Rosada mengambil langkah penting yang kemudian menjadi titik balik sejarah Persib. Ia menginisiasi transformasi klub dari sistem amatir menuju pengelolaan profesional berbadan hukum.
Melalui musyawarah bersama tokoh sepak bola Bandung dan para pemangku kepentingan, lahirlah PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), badan hukum yang hingga kini menjadi pengelola resmi Persib Bandung. Langkah tersebut dinilai menjadi pondasi utama kebangkitan Persib di era sepak bola modern Indonesia.
Tak hanya menyelamatkan klub secara administrasi dan finansial, Dada Rosada juga meninggalkan warisan infrastruktur besar bagi Persib dan masyarakat Bandung melalui pembangunan Stadion GBLA di kawasan Gedebage.
Pembangunan stadion berkapasitas puluhan ribu penonton itu mulai digagas pada 2009 sebagai jawaban atas kebutuhan Persib memiliki kandang representatif bertaraf internasional. Kini GBLA menjadi ikon baru sepak bola Jawa Barat sekaligus saksi berbagai pencapaian bersejarah Maung Bandung.
Hubungan emosional Dada Rosada dengan Persib pun tak pernah terputus. Bahkan ketika ia menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin akibat kasus hukum yang menjeratnya, manajemen Persib bersama manajer Umuh Muchtar tetap menunjukkan penghormatan atas kontribusinya.
Saat Persib menjuarai ISL 2014 dan Piala Presiden 2015, trofi juara secara khusus dibawa ke Lapas Sukamiskin untuk diperlihatkan langsung kepada Dada Rosada sebagai bentuk penghargaan moral atas jasa besarnya terhadap klub.Pengakuan resmi terhadap kontribusinya kembali ditegaskan ketika manajemen Persib memberikan penghargaan Lifetime Achievement dalam ajang Persib Award 2023.
Saya ini keturunan bapak yang juga pemain sepak bola, dan saya juga cinta sepak bola. Ketika jadi Wali Kota dan dipercaya memegang Persib, saya berupaya membangun klub agar berprestasi tapi juga memperhatikan kesejahteraan di dalamnya,” ujar Dada Rosada.
Ia juga mengenang perkenalannya dengan Glenn Sugita yang kemudian ikut membawa Persib berkembang menjadi klub profesional dengan tata kelola modern hingga sekarang.
Di tengah perayaan gelar ketiga beruntun Persib musim ini, Dada Rosada menitipkan pesan khusus kepada para bobotoh untuk menjaga Stadion GBLA sebagai rumah bersama.
“Jangan sampai rusak seperti dulu. Stadion ini milik kita bersama, harus dijaga dan dirawat,” pesannya.
Kini, keberhasilan Persib meraih hat-trick juara bukan hanya dipandang sebagai prestasi olahraga semata, tetapi juga buah dari pondasi panjang yang dibangun sejak dua dekade lalu. Di mata banyak bobotoh, nama Dada Rosada tetap menjadi bagian penting dari sejarah besar Maung Bandung — sosok yang bukan sekadar mantan pemimpin, melainkan arsitek kebangkitan Persib menuju era kejayaan.
Red: Mia
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


