armedia.news | Jakarta – Lonjakan harga RAM terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, akibat permintaan tinggi dari industri kecerdasan buatan (AI) dan berkurangnya pasokan untuk konsumen.
Penyebab Utama Kenaikan Harga RAM
– Industri AI menyerap produksi besar-besaran
Sejak pertengahan 2025, pusat data berbasis AI membutuhkan DRAM, NAND, dan HBM dalam jumlah masif. Produsen besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan produksi untuk server AI, sehingga stok RAM konvensional (DDR4/DDR5) untuk PC, laptop, dan smartphone semakin menipis.
– Produsen menaikkan harga hingga 30%
Laporan menyebutkan harga DRAM dan NAND naik signifikan pada kuartal IV 2025. Beberapa peritel global bahkan menaikkan harga sistem PC dan komponen mulai Desember 2025.
– Transisi ke DDR5 mempersempit pasokan DDR4
Pergeseran produksi ke DDR5 membuat DDR4 semakin langka. Di Indonesia, modul RAM entry-level seperti Team Elite Plus 8GB yang awalnya Rp140.000 kini melonjak menjadi sekitar Rp218.000, naik lebih dari 50%.
Dampak Global dan di Indonesia
– Kenaikan ekstrem hingga ratusan persen
Harga RAM di pasar internasional dilaporkan naik hingga 500% untuk beberapa varian premium.
– Konsumen kesulitan merakit PC
Banyak pengguna di AS, Jepang, Taiwan, hingga Indonesia mengeluhkan harga DDR4 dan DDR5 yang terus naik. Beberapa toko bahkan menyembunyikan harga atau membatasi penjualan karena stok terbatas.
– Indonesia ikut terdampak
Pasar lokal mengalami kenaikan signifikan, terutama untuk RAM kelas menengah dan atas. Gamer, kreator konten, dan profesional yang bergantung pada PC merasakan langsung dampaknya.
Proyeksi ke Depan
– Selama industri AI terus berkembang, harga RAM diperkirakan tetap tinggi.
– Konsumen disarankan menunda upgrade besar atau mencari alternatif seperti optimasi penggunaan RAM dan memanfaatkan SSD sebagai cache.
– Pemerintah dan pelaku industri di Indonesia perlu mengantisipasi dampak harga komponen terhadap sektor
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



