Home / Berita Utama / Daerah / Banjir Bandang Tapteng: 50 Warga Selamat Setelah Terjebak di Hutan, Evakuasi Penuh Tantangan

Banjir Bandang Tapteng: 50 Warga Selamat Setelah Terjebak di Hutan, Evakuasi Penuh Tantangan

armedia.news | Tapanuli Tengah — Sebanyak 50 warga dari Kampung Baru, Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, berhasil menyelamatkan diri setelah sempat terjebak di hutan akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi pada akhir November 2025 dan menjadi salah satu episode paling dramatis dalam rangkaian bencana alam di Sumatera Utara.

Rosmawati Zebua (30), salah satu warga yang keluarganya turut menjadi korban, mengungkapkan bahwa tujuh anggota keluarganya termasuk dalam rombongan yang sempat terisolasi. Ia sempat berkomunikasi dengan adiknya melalui sambungan telepon pada Selasa (25/11), dan mendapat kabar bahwa mereka telah mengungsi ke tempat lebih tinggi. “Mereka bilang sudah mengungsi, tidak lagi di rumah. Banjir bandang sudah menghadang semua,” ujarnya.

Baca juga :  Distribusi Bantuan ke 4 Kabupaten di Aceh Gunakan Jalur Udara, Akses Darat Masih Terhambat

Namun, komunikasi sempat terputus sekitar pukul 11.00 WIB di hari yang sama. Rosmawati menyebut bahwa dalam rombongan tersebut terdapat bayi berusia tiga bulan dan seorang lansia yang lumpuh akibat stroke. “Itu anak abang saya, dan ada lansia juga yang lumpuh,” katanya.

Hujan deras telah mengguyur kampung sejak Sabtu (22/11), membuat warga bersiap untuk mengungsi ke gereja. Sayangnya, banjir datang lebih besar dari perkiraan, memaksa mereka lari ke hutan tanpa membawa bekal. “Mereka berteriak minta tolong, belum makan sejak pagi. Pokoknya kami disuruh berdoa saja,” kata Rosmawati, mengenang momen video call yang terganggu karena ponsel masuk air.

Evakuasi dilakukan secara mandiri oleh warga pada Kamis (27/11). Sebagian korban mengungsi ke GOR Sibolga, sementara lainnya ditampung di rumah keluarga, termasuk di Desa Hajoran, Kecamatan Pandan. “Sekarang mereka sudah aman di sana, tapi jaringan masih sulit. Saya masih menunggu kabar soal kondisi orangtua,” tambah Rosmawati.

Baca juga :  Pemkot Lubuk Linggau Ikuti Rapat Evaluasi Pembentukan Satgas Terpadu Penanganan Premanisme dan Ormas Bermasalah

Data terbaru menyebutkan bahwa korban tewas akibat banjir dan longsor di Sumatera telah mencapai 604 jiwa, dengan jumlah terbanyak berasal dari Sumatera Utara. Pemerintah daerah dan tim gabungan terus melakukan penelusuran dan distribusi bantuan ke lokasi terdampak, termasuk pembangunan jembatan darurat untuk membuka kembali akses logistik dan evakuasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tag:

Tinggalkan Balasan

Berita Terpopuler