armedia.news | Jakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mengumumkan skema bantuan khusus bagi mahasiswa dan keluarga mereka yang terdampak banjir dan longsor di wilayah Sumatra. Bantuan ini mencakup santunan biaya hidup bagi mahasiswa yang mengalami dampak berat, termasuk mereka yang sedang menempuh studi di luar Sumatra namun memiliki keluarga yang terdampak langsung.
Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Togar M Simatupang, menyampaikan bahwa besaran santunan berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 15 juta, tergantung tingkat dampak yang dialami. Selain itu, pemerintah juga berupaya memastikan kelangsungan aktivitas belajar di 1.009 sekolah yang terdampak banjir.
Kemendikti Saintek turut mengaktifkan dua skema tambahan. Pertama, 13 perguruan tinggi di wilayah terdampak ditetapkan sebagai posko koordinasi akademik dan bantuan lapangan. Mahasiswa yang bertugas di posko ini akan membantu mengidentifikasi kebutuhan warga, seperti penyediaan filter air bersih dan layanan darurat lainnya.
Kampus-kampus besar di Pulau Jawa seperti ITB dan UGM juga dilibatkan sebagai pusat koordinasi teknologi jarak jauh. Togar menjelaskan bahwa mahasiswa dari ITB siap memproduksi filter berbasis membran dan sumur pompa air, yang dapat dikirim ke lokasi bencana. Teknologi seperti drone dan software pelacak posisi juga akan digunakan untuk mempercepat identifikasi kebutuhan di lapangan.
Pemerintah dan DPR turut mendorong agar mahasiswa terdampak mendapatkan keringanan akademik dan UKT, sebagai bentuk empati dan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan mereka.
Langkah ini menunjukkan komitmen Kemendikti Saintek dalam mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan respons kemanusiaan, sekaligus memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi dan solidaritas nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



