Bandung — Di sebuah bangunan galeri seni di jantung Jalan Braga yang sarat sejarah, biru Persib tak hanya hadir dalam bentuk jersey, trofi, atau sorak kemenangan. Ia menjelma menjadi karya seni, arsip, foto, hingga cerita yang menyimpan jejak perjalanan panjang sebuah klub yang telah tumbuh menjadi identitas masyarakat Jawa Barat.
Senin (8/6/2026), Grey Art Gallery yang beralamat di Jalan Braga Nomor 47, Kota Bandung, dipenuhi para Bobotoh, seniman, pegiat budaya, tokoh pemerintahan, dan insan media. Mereka berkumpul dalam pembukaan pameran Kultura Persib, sebuah pameran yang tidak sekadar berbicara tentang sepak bola, tetapi tentang memori kolektif, kebanggaan daerah, dan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.Di balik lahirnya pameran tersebut berdiri sosok Elia Yoesman, pemilik Grey Art Gallery sekaligus penggagas Kultura Persib. Bagi Elia, Persib bukan hanya klub yang bertanding selama 90 menit di lapangan hijau. Persib adalah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Awalnya kami hanya ingin membuat pameran seni rupa. Tetapi setelah bertemu banyak orang, berdiskusi dengan komunitas, manajemen Persib, para Bobotoh, dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjalanan klub ini, kami menyadari bahwa yang kami hadapi jauh lebih besar dari sekadar sepak bola,” ujar Elia dalam sesi talkshow bersama media.
Menurutnya, ada satu fenomena menarik yang ditemukan selama proses riset berlangsung. Banyak anak-anak mengenal Persib sebagai klub juara, tetapi tidak banyak yang mengetahui perjuangan panjang yang mengantar klub kebanggaan Jawa Barat itu sampai ke titik sekarang.
“Anak-anak sekarang mengenal Persib sebagai juara. Mereka melihat Persib menang, melihat euforia, melihat perayaan. Tetapi mereka belum tentu mengenal sejarahnya. Belum tentu tahu bagaimana perjuangan orang-orang yang membangun Persib sejak puluhan tahun lalu,” katanya.
Dari kegelisahan itulah gagasan Kultura Persib lahir.
Elia ingin menghadirkan ruang yang dapat menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Sebuah ruang tempat generasi muda bisa belajar tentang sejarah, perjuangan, loyalitas, dan kecintaan yang membentuk identitas Persib hari ini.
“Kami merasa semua cerita ini harus mulai dikoleksi, didokumentasikan, dan diwariskan. Harus ada legacy yang bisa ditinggalkan untuk generasi berikutnya. Karena Persib bukan hanya tentang pertandingan, tetapi tentang perjalanan panjang yang melibatkan begitu banyak orang,” ungkapnya.
Lebih jauh, Elia melihat Persib sebagai fenomena budaya yang unik. Tidak semua pendukung Persib memahami taktik sepak bola atau statistik pertandingan. Namun mereka memiliki ikatan emosional yang sangat kuat terhadap klub tersebut.
“Persib sudah menjadi identitas. Ada orang yang mencintai Persib bukan karena mengerti sepak bola secara teknis, tetapi karena Persib adalah bagian dari dirinya, bagian dari keluarganya, bagian dari lingkungan tempat ia tumbuh,” ujarnya.
Pandangan itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi berbagai karya yang ditampilkan dalam pameran. Mulai dari sejarah klub, perjalanan Bobotoh, dokumentasi visual, hingga karya seni yang merepresentasikan hubungan emosional masyarakat dengan Persib.
Elia bahkan menyebut Kultura Persib sebagai salah satu pameran pertama di Asia yang secara khusus mengangkat klub sepak bola sebagai subjek utama dalam ruang seni.
“Yang membuat Persib berbeda adalah Bobotohnya. Tidak semua daerah memiliki ikatan emosional seperti yang dimiliki masyarakat Jawa Barat terhadap Persib. Karena itu kami merasa kisah ini layak untuk diangkat,” katanya.
Kehadiran pameran tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari H. Umuh Muhtar, Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat sekaligus Manajer Persib Bandung.
Dalam sambutannya, Umuh mengaku terharu melihat Persib diangkat ke dalam ruang seni dan budaya.
“Ini luar biasa. Baru kali ini ada pameran seperti ini yang mengangkat Persib dari sisi budaya dan seni. Saya berterima kasih kepada Ibu Elia yang memiliki gagasan besar seperti ini. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan semakin besar setiap tahunnya,” ujar Umuh.
Pria yang telah puluhan tahun mengabdikan diri untuk Persib itu menegaskan bahwa kecintaannya terhadap klub tidak pernah berubah.
“Saya hidup untuk Persib dan Bobotoh. Apa yang saya lakukan selama ini adalah bentuk pengabdian saya kepada Persib. Semoga Persib terus berjaya dan terus membawa kebahagiaan bagi masyarakat Jawa Barat,” katanya.
Apresiasi serupa disampaikan Erwan Setiawan, Wakil Gubernur Jawa Barat. Menurutnya, Persib saat ini telah berkembang menjadi simbol identitas masyarakat Jawa Barat.
“Persib bukan lagi hanya milik Kota Bandung. Persib adalah milik masyarakat Jawa Barat bahkan sudah menjadi milik Indonesia. Di mana pun kita berada, ketika berbicara Persib, ada rasa bangga yang muncul sebagai orang Jawa Barat,” kata Erwan.
Ia menilai pencapaian Persib yang berhasil meraih tiga gelar juara liga secara beruntun menjadi bukti konsistensi dan semangat pantang menyerah yang patut diteladani.
Namun di balik prestasi tersebut, Erwan melihat ada nilai yang lebih besar.
“Persib bukan hanya tentang trofi. Persib adalah tentang kebersamaan, loyalitas, dan identitas. Karena itu saya sangat mengapresiasi pameran ini yang menghadirkan Persib dari sudut pandang budaya dan seni,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai kolaborasi antara galeri seni dan klub sepak bola profesional merupakan sesuatu yang sangat istimewa.
“Menurut saya ini luar biasa. Tidak banyak kota yang memiliki tradisi sepak bola sekuat Persib sekaligus tradisi seni dan kreativitas sekuat Bandung. Di sini keduanya bertemu dan menghasilkan sesuatu yang unik,” kata Farhan.
Baginya, Kultura Persib menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya hidup di stadion, tetapi juga dapat hadir dalam ruang-ruang budaya dan kreativitas.
Menjelang sore, percakapan tentang seni dan sepak bola terus mengalir di dalam galeri. Para pengunjung mengamati karya demi karya, berbagi cerita tentang pertandingan yang pernah mereka saksikan, mengenang pemain idolanya, hingga membicarakan masa depan Persib.
Di tengah semua itu, Kultura Persib seolah mengingatkan satu hal: bahwa sebuah klub sepak bola bisa menjadi lebih dari sekadar olahraga. Ia bisa menjadi memori, identitas, kebanggaan, bahkan bagian dari sejarah sebuah daerah.
Dan dari sebuah galeri kecil di Jalan Braga, Elia Yoesman mencoba memastikan bahwa cerita besar itu tidak hilang ditelan waktu.
Redaksi : Mia
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

