armedia.news | Jakarta — Asosiasi pengemudi ojek online Garda Indonesia secara resmi menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah dan kepolisian terkait kematian Affan Kurniawan, pengemudi Ojol berusia 21 tahun yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di Pejompongan, Kamis (28/8/2025). Tragedi ini memicu gelombang protes nasional dan menjadi sorotan tajam terhadap prosedur pengamanan aparat.
Dalam pernyataan resminya, Ketua Garda Indonesia Raden Isnanto Wicaksono menyampaikan belasungkawa mendalam dan menegaskan bahwa insiden ini tidak boleh berlalu tanpa pertanggungjawaban. Ia menyebut bahwa tindakan represif yang menyebabkan hilangnya nyawa harus diusut secara independen dan transparan.
Berikut lima tuntutan yang disampaikan Garda Indonesia:
1. Pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta Independen
Garda meminta agar dibentuk tim investigasi lintas lembaga yang tidak berada di bawah kendali institusi kepolisian, guna menjamin objektivitas dalam mengusut insiden yang menyebabkan kematian Affan.
2. Transparansi dan Akuntabilitas dari Kepolisian RI
Kepolisian diminta membuka kronologi kejadian secara utuh kepada publik, termasuk siapa saja personel yang terlibat dan bagaimana prosedur pengamanan dijalankan saat demonstrasi berlangsung.
3. Penegakan Hukum terhadap Pelaku Kelalaian atau Kekerasan
Garda menuntut agar anggota Brimob yang terbukti lalai atau sengaja melakukan pelindasan terhadap korban diproses secara hukum, tanpa perlindungan institusional.
4. Seruan Solidaritas Nasional
Garda mengajak seluruh pengemudi Ojol dan masyarakat sipil untuk bersatu menuntut keadilan dan mendorong reformasi sistem pengamanan publik yang lebih manusiawi.
5. Jaminan Perlindungan dan Keselamatan Warga Negara
Pemerintah didesak untuk memastikan bahwa setiap warga, terutama kelompok rentan seperti pengemudi Ojol, memiliki perlindungan hukum dan keselamatan saat berada di ruang publik.
Tuntutan ini muncul di tengah situasi yang masih memanas di sekitar Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, di mana ribuan massa masih bertahan sejak Kamis malam. Kerusuhan, pembakaran fasilitas, dan bentrokan dengan aparat menjadi bukti bahwa kemarahan publik belum mereda.
Garda Indonesia menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk Affan, tetapi untuk seluruh pengemudi Ojol yang selama ini bekerja di bawah tekanan sistem yang belum sepenuhnya melindungi mereka. Mereka menuntut perubahan nyata, bukan sekadar permintaan maaf.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



