JAKARTA – Sebuah wadah pemikiran baru berskala nasional resmi diperkenalkan kepada publik. Mengusung nama Majelis Arah Indonesia (MAI), lembaga ini lahir dengan semangat persatuan, kebersamaan, serta ikhtiar kolektif untuk mendorong kemajuan umat dan bangsa.
Dalam keterangan resminya yang dirilis di Jakarta pada Kamis, 10 Muharram 1448 H atau 25 Juni 2026, MAI menegaskan posisinya di lanskap sosial-politik tanah air. MAI hadir bukan sebagai oposisi yang berseberangan, bukan pula sebagai pendukung buta pemerintah. Lembaga ini memosisikan diri secara independen sebagai mitra strategis bagi pemerintah.
”MAI hadir menjadi tandem sekaligus sparing partner dalam menghadirkan gagasan, masukan, dan pemikiran mengenai arah bangsa,” tulis pernyataan resmi Dewan Presidium MAI.
Berlandaskan Nilai Islam untuk Kemajuan Bangsa
Dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur Islam, MAI berkomitmen penuh untuk memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor krusial, mulai dari pembangunan sosial, penguatan ekonomi, hingga dinamika politik demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Kehadiran majelis ini diharapkan mampu menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan yang luas dan konkret bagi seluruh elemen umat, bangsa, dan negara.
Diisi Tokoh dan Ulama Nasional
Kekuatan utama MAI terletak pada jajaran Dewan Presidiumnya yang diisi oleh kombinasi kuat antara ulama terkemuka, akademisi senior, hingga praktisi yang memiliki pengaruh luas di Indonesia.
Berikut adalah jajaran Dewan Presidium MAI (berdasarkan urutan abjad):
- Prof. Abdul Somad, Ph.D
- Dr. H. Das’ad Latif, Ph.D
- KH. Fahmi Salim, Lc. MA.
- Iwel Sastra, SH., M.Si.
- KH. Nonop Hanafi, M.Pd.I
- Ust. Slamet Ma’arif, S.Ag. MM.
- KH. Toha Yusuf Zakariya, Lc.
- Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik
Dengan komposisi tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak panjang dalam pembinaan umat dan pemikiran kebangsaan ini, MAI siap mengawal dan menguatkan arah perjalanan bangsa ke depan melalui gagasan-gagasan yang konstruktif.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
